KOLOM  

Tanah Suci Jadi Dagangan, Lansia Jadi Sasaran

Avatar photo

Opini: Arif Rahman Hakim

Di negeri yang masyarakatnya kadang lebih mudah percaya pada ucapan manis ketimbang memeriksa legalitas, penipuan berkedok perjalanan ibadah rupanya masih terus menemukan celah.

Kali ini, panggung itu kembali muncul di Bojonegoro. Seorang perempuan berinisial SM (41), warga Kecamatan Balen, diamankan polisi setelah diduga menipu para lansia dengan janji keberangkatan umrah cepat.

Korbannya bukan pejabat rakus, bukan bandar proyek, bukan mafia anggaran. Tapi orang-orang tua desa yang mungkin seumur hidup menabung receh demi satu mimpi sederhana, yakni, bisa sujud di depan Ka’bah sebelum dipanggil Tuhan.

Dan di situlah letak ironi paling menyakitkan.

Modus yang digunakan sebenarnya tidak rumit. Tidak perlu teknologi canggih, tidak perlu keahlian kriminal tingkat tinggi. Cukup tampil meyakinkan, berbicara sopan, lalu menawarkan janji yang terdengar menenangkan: “Bisa cepat berangkat bagai Kilat”

Di negeri ini, kata “cepat” memang sering terdengar lebih menarik daripada kata “hati-hati”.

Mau urusan selesai cepat, ada yang mencari jalan belakang. Mau kaya cepat, muncul investasi bodong. Mau terkenal cepat, ada sensasi murahan. Dan dalam kasus seperti ini, keinginan beribadah pun dijadikan alat untuk mencari keuntungan pribadi.

Yang paling memprihatinkan, sasaran utamanya justru para lansia. Orang-orang yang mungkin sudah capek hidup, capek kerja, capek menghadapi dunia, lalu ingin menutup usia dengan ibadah.

Namun kerinduan yang tulus itu malah dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Padahal persoalannya bukan pada agamanya. Bukan pula pada ibadah umrahnya. Yang bermasalah adalah moral orang yang tega memakai kepercayaan sebagai alat menipu.

Sebab agama selalu mengajarkan kejujuran, amanah, dan tanggung jawab. Tetapi dalam kasus seperti ini, nilai-nilai itu justru ditinggalkan demi kepentingan rekening pribadi.

Yang menyedihkan, pola seperti ini terus berulang. Nama travel bisa berganti, pelaku bisa berbeda, tetapi caranya hampir sama, menjual harapan, memanfaatkan rasa percaya, lalu membawa kabur uang korban.

Masyarakat akhirnya perlu belajar satu hal penting, niat ibadah harus tetap dibarengi kewaspadaan.

Sebab penipu tidak selalu datang dengan wajah garang. Kadang mereka hadir dengan senyum ramah, ucapan santun, dan janji yang terdengar meyakinkan.

Karena itu, memeriksa legalitas travel, memastikan izin resmi, dan tidak mudah tergoda tawaran instan adalah bentuk kehati-hatian yang penting. Jangan sampai niat baik justru berubah menjadi penyesalan.

Kasus di Bojonegoro ini bukan sekadar cerita kriminal biasa. Ini juga pengingat bahwa keserakahan bisa muncul di mana saja ketika hati nurani mulai kalah oleh keinginan pribadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *