BOJONEGORO UpWarta.com – Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro bakal mengevaluasi sejumlah kuota sekolah yang belum terpenuhi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2026 jalur domisili yang resmi ditutup hari ini, Selasa (19/5/2026).
Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro, M. Anwar Mukhtadlo mengatakan, salah satu penyebab masih adanya kursi kosong di sejumlah sekolah yakni menurunnya jumlah lulusan siswa SD tahun ini dibanding tahun sebelumnya.
“Jumlah lulusan SD kelas 6 tahun ini memang mengalami penurunan, sementara pagu sekolah masih mengacu pada kapasitas tahun lalu. Ini yang sedang kami evaluasi,” kata Anwar saat diwawancarai, Selasa (19/5/2026).
Selain faktor penurunan lulusan, pihaknya juga masih melakukan pendataan terkait kemungkinan adanya siswa yang memilih melanjutkan sekolah ke luar daerah maupun ke sekolah swasta dan pondok pesantren.
Menurutnya, Dinas Pendidikan akan segera mengumpulkan kepala sekolah yang kuotanya belum terpenuhi guna membahas langkah lanjutan.
“Sekolah-sekolah yang kuotanya belum tercapai nanti akan kami kumpulkan. Kami berdiskusi bersama kepala sekolah untuk mencari solusi terbaik terkait pemenuhan pagu,” ujarnya.
Pertemuan evaluasi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 6 Juni 2026 mendatang.
Anwar menjelaskan, mekanisme PPDB tahun ini berbeda dibanding tahun sebelumnya. Pada 2025 lalu, pengisian kuota kosong bisa langsung dilakukan setelah jalur domisili selesai.
Namun tahun ini terdapat tambahan tahapan baru yakni melalui jalur Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan kuota sebesar 5 persen.
Pendaftaran jalur TKA dijadwalkan dibuka pada 3-4 Juni 2026. Sedangkan pengumuman hasil seleksi akan dilakukan pada 24 Juni 2026 mengikuti jadwal dari pemerintah pusat.
“Pemenuhan sisa pagu baru bisa dilakukan setelah seluruh tahapan TKA selesai,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai dukungan masyarakat juga penting agar anak usia sekolah tetap melanjutkan pendidikan. Meski sekolah negeri saat ini telah gratis dan memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM), kata dia, pilihan masyarakat kini semakin beragam.
“Sekarang banyak pilihan pendidikan. Ada yang memilih sekolah swasta, pondok pesantren, atau lembaga lain karena memiliki program tambahan yang dianggap menarik oleh orang tua,” pungkasnya. (Arh)
