Di Tengah Gemuruh Sound Horeg, Wayang Krucil Masih Bertahan Bercerita di Desa Mlinjeng

Avatar photo
Pementasan Wayang krucil di Punden. krapyak Hut Desa Mlinjeng, Sumberrejo, Bojonegoro, ke 553 oleh Dalang Ki Adit Bagong. Rabu (13/5/2026)

BOJONEGORO UpWata.com – Rabu siang, 13 Mei 2026, suasana di sekitaran Punden Krapyak, dan Situs Pemintihan  Desa Mlinjeng, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, terasa berbeda dari biasanya.

Di bawah rindangnya pepohonan, di Jalann poros desa, aroma tanah desa yang mulai menghangat diterpa matahari, masyarakat berkumpul merayakan Hari Jadi Desa Mlinjeng ke-553 yang spektakuler.

Ada jamasan pusaka Lumpang Kenteng, Tari Gebyak Lumpang Kenteng, Gejug Lesung Gebyakan, tahlil dan doa bersama, hingga lagu khas Desa Mlinjeng Semprul yang dinyanyikan bersama warga.

Namun di antara seluruh rangkaian acara itu, ada satu pertunjukan yang diam-diam menyimpan kegelisahan tentang masa depan budaya desa, yakni Wayang Krucil.

Di saat malamnya langit Desa Mlinjeng akan bergemuruh oleh kirab budaya dan sound horeg dari Blitar, Jombang, Tuban hingga Bojonegoro, siang itu Wayang Krucil justru tampil sederhana. Tidak terlalu bising. Tidak meledak-ledak. Tapi penuh cerita.

Wayang kecil berbahan kayu itu dimainkan oleh Asli Aditya Nur Rohmat atau yang akrab dikenal sebagai Ki Adit Bagong dari Sanggar Somiyelah Wayang Krucil, Parengan, Tuban.

Lakon yang dibawakan berjudul “Aryo Surung”.

Bukan cerita sembarangan, Menurut Ki Adit, Aryo Surung dipercaya masyarakat sebagai tokoh penting dalam sejarah bumi Pamintihan, wilayah yang dahulu meliputi sebagian Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban pada era Majapahit.

“Yang dipercaya warga Mlinjeng, pusat Pamintihan itu ada di sini, di Desa Mlinjeng ini,” ujarnya usai pentas kepada Upwarta.com

Ia menjelaskan, Kala itu Aryo Surung mendapatkan wilayah Pamintihan setelah berhasil membantu Majapahit menumpas kekuatan pemberontak yang menguasai sumur minyak di kawasan Kedhewang atau yang kini dikenal sebagai Kedewan.

Cerita itu bahkan disebut dalam Prasasti Pamintihan yang sebagian peninggalannya kini tersimpan di Belanda. Tetapi Ironisnya, kisah sebesar itu justru belum banyak diketahui masyarakat Bojonegoro sendiri.

Wayang Krucil hari ini memang seperti sedang berjalan pelan di tengah dunia yang berlari sangat cepat. Anak-anak muda kini lebih akrab dengan hiburan digital dibanding kisah-kisah lokal yang dahulu hidup dari mulut ke mulut lewat pertunjukan wayang desa.

Padahal dari panggung sederhana itulah dulu masyarakat belajar sejarah, pitutur, humor, hingga nilai kehidupan.

“Generasi muda harus mencintai budaya dan seni tradisi di wilayah masing-masing. Itu jati diri bangsa kita,” kata Ki Adit.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan kegelisahan panjang para pelaku seni tradisional yang perlahan mulai kehilangan ruang.

Negeri ini kadang terlalu sibuk mengejar hiburan paling keras suaranya, sampai lupa mendengar cerita-cerita kecil yang sebenarnya membentuk identitasnya sendiri.

Wayang Krucil pastinya kalah ramai dibanding sound horeg pada malam harinya yang mengguncang jalan desa. Tapi dari kayu-kayu kecil itulah sejarah lokal, nasihat leluhur, dan ingatan tentang jati diri masyarakat Jawa masih berusaha dipertahankan.

Desa Mlinjeng siang itu seolah memberi pesan sederhana, Bahwa modernitas boleh datang sekeras apa pun, tetapi budaya desa jangan sampai ikut hilang ditelan gemuruh zaman. (Arh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *