Bojonegoro – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) minuman tradisional dawet di Kabupaten Bojonegoro terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Minuman khas berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula merah ini tak hanya diminati warga lokal, tetapi juga mulai menarik perhatian pengunjung dari luar daerah. Pertumbuhan tersebut tidak lepas dari dukungan perbankan, salah satunya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, melalui pembiayaan dan pendampingan usaha.
Salah satu pelaku UMKM dawet, Siti Rahayu, warga Kecamatan Kapas, mengaku usahanya semakin maju setelah mendapatkan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. “Sebelumnya saya jualan keliling dengan peralatan seadanya. Setelah dapat KUR, saya bisa beli mesin parut kelapa, etalase, dan perlengkapan yang lebih layak. Sekarang tampilan dagangan lebih rapi dan pembeli makin percaya,” ujarnya.
Menurut Siti, omzet penjualan kini meningkat signifikan. Jika sebelumnya hanya meraup sekitar Rp300 ribu per hari, kini bisa mencapai Rp700 ribu hingga Rp1 juta, terutama saat akhir pekan. “Alhamdulillah, sekarang saya juga bisa mempekerjakan satu karyawan. Usaha kecil seperti kami jadi punya harapan untuk berkembang,” katanya.
BRI Bojonegoro terus mendorong UMKM kuliner tradisional agar naik kelas melalui pembiayaan, edukasi pengelolaan keuangan, serta pemanfaatan teknologi digital. Pelaku usaha dibekali pengetahuan tentang pencatatan keuangan, pengemasan produk, hingga promosi lewat media sosial.
“Kami ingin UMKM tidak hanya bertahan, tapi juga tumbuh berkelanjutan. Dawet sebagai kuliner lokal punya potensi besar jika dikelola dengan baik,” ujar perwakilan BRI.
Dengan sinergi antara perbankan dan pelaku UMKM, dawet khas Bojonegoro diharapkan mampu menjadi ikon kuliner daerah yang berdaya saing tinggi. Ke depan, UMKM dawet tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga penggerak ekonomi rakyat di tingkat lokal.
