Makna Lempar Jumroh Tanggal 10 Dzulhijah

Avatar photo

Oleh Sholikin Jamik

Lempar Jumrah Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah itu ritual simbolik yang maknanya dalam banget.

Hari itu namanya Hari Nahr, dan lempar jumrah jadi amalan pertama yang dilakukan jamaah haji setelah turun dari Muzdalifah.

1. Asal usulnya: Kisah Nabi Ibrahim vs Setan

Ini inti maknanya. Lempar jumrah meniru kejadian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

Saat Ibrahim diperintah Allah menyembelih Ismail, setan datang 3 kali untuk menggoda beliau agar membatalkan perintah itu.

– Pertama di Jumrah Ula
– Kedua di Jumrah Wustha
– Ketiga di Jumrah Aqabah

Setiap kali setan muncul, Jibril bilang ke Ibrahim: “Lempar dia!
Ibrahim pun melempar setan dengan 7 batu kecil, dan setan lari.

Jadi lempar jumrah tanggal 10 Dzulhijjah itu meniru aksi Nabi Ibrahim yang menolak godaan setan dengan tegas.

2. Makna simboliknya

Lempar jumrah bukan main lempar batu ke tiang. Ada 3 makna utama:

a. Pernyataan perang terhadap setan dan hawa nafsu
Batu yang kamu lempar itu simbol penolakan.
Setiap lemparan = “Aku menolak bisikanmu, aku taat pada Allah”
Setan itu musuh nyata, dan cara melawannya adalah dengan taat, bukan debat.

b. Praktik ketundukan tanpa banyak tanya
Nabi Ibrahim nggak nanya “kenapa harus sembelih anakku?”. Beliau langsung taat.
Lempar jumrah ngajarin kita: ada perintah Allah yang kita jalankan meski akal belum sepenuhnya paham hikmahnya.
Itu namanya ubudiyah murni.

c. Pembuka untuk taubat dan pembersihan diri
Setelah lempar jumrah Aqabah, kamu cukur rambut dan tahalul awal.
Artinya: setelah “mengusir setan”, kamu masuk ke fase pembersihan diri dan kembali suci.
Makanya urutannya: lempar → sembelih → cukur → tahalul.

3. Tata caranya yang disyariatkan

Tanggal 10 Dzulhijjah cuma lempar 1 jumrah, yaitu Jumrah Aqabah yang paling besar dan paling dekat ke Mekah.

Waktu: Setelah matahari terbit sampai sebelum maghrib. Yang paling afdhal setelah matahari agak tinggi.
– Jumlah batu: 7 butir, seukuran kacang hijau.
Cara: Berdiri menghadap jumrah, takbir tiap lemparan “Allahu Akbar”.
– Niat: Nggak perlu dilafalkan. Cukup dalam hati mengikuti perintah Allah.

Setelah itu baru sembelih kurban, cukur rambut, tawaf ifadhah.

4. Makna untuk hidup sehari-hari

Lempar jumrah itu latihan praktis:

1. Setiap hari kita digoda setan lewat malas sholat, ghibah, riba, marah. Lempar jumrah ngajarin: lawan langsung, jangan dituruti.
2. Setan nggak mati, makanya ada 3 jumrah yang dilempar 3 hari berturut-turut. Godaan datang berulang, jadi perlawanan juga harus konsisten.
3. Batu kecil bisa ngusir setan besar kalau dilakukan dengan niat dan taat. Amal kecil yang ikhlas lebih berat dari amal besar yang riya.

Ibnu Qayyim bilang: “Lempar jumrah itu menegakkan syiar tauhid, menghinakan setan, dan menampakkan sikap bermusuhan dengannya”.

5. Kalau nggak bisa lempar sendiri?

Kalau sakit, tua, atau ramai banget, boleh diwakilkan.
Tapi yang afdhal tetap lempar sendiri karena itu bagian dari latihan melawan hawa nafsu.

Singkatnya:
Lempar jumrah 10 Dzulhijjah = deklarasi “Aku di pihak Allah, bukan setan”.
Itu warisan Nabi Ibrahim, latihan taat tanpa debat, dan pembuka untuk tahalul.
Bukan batu yang ngena ke setan, tapi ketaatanmu yang bikin setan kalah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *