Oleh Sholikin Jamik
Mabit di Muzdalifah = bermalam di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah, setelah wukuf di Arafah dan sebelum lempar Jumrah Aqabah.
Itu wajib haji, bukan cuma istirahat biasa. Ada makna ibadah dan simbolik yang dalam di dalamnya.
1. Makna secara hukum dan praktik
Waktu: Setelah Maghrib dan Isya tanggal 9 Dzulhijjah, jamaah berangkat dari Arafah ke Muzdalifah.
Amalan: Jamaah jama’ dan qashar Maghrib-Isya, lalu mabit sampai lewat tengah malam.
Minimal mabit = lewat tengah malam sampai sebelum fajar.
Nabi ﷺ mabit sampai subuh, baru sholat Subuh di awal waktu, lalu berangkat ke Mina.
Tujuannya: Mengambil batu untuk lempar jumrah dan mempersiapkan diri fisik-mental untuk hari Nahr.
2. Makna spiritual mabit di Muzdalifah
a. Simbol kerendahan dan persamaan manusia
Muzdalifah itu tanah lapang tanpa tenda mewah. Semua tidur di tanah, beralaskan langit.
Kaya, miskin, pejabat, rakyat biasa tidur berdampingan.
Maknanya: di hadapan Allah semua sama. Yang membedakan cuma takwa.
b. Istirahat setelah ujian berat
Sebelum Muzdalifah ada wukuf di Arafah seharian, berdiri, doa, panas, capek.
Muzdalifah adalah jeda. Allah kasih waktu istirahat fisik tapi hati tetap hidup dengan dzikir dan doa.
Maknanya: setelah berjuang, Allah beri ketenangan. Tapi jangan lupa dzikir.
Allah berfirman: _”Apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram”_ [QS. Al-Baqarah: 198]
c. Persiapan untuk perang melawan setan
Di Muzdalifah jamaah mengambil 7 batu kecil untuk lempar Jumrah Aqabah.
Batu = simbol melawan hawa nafsu dan godaan setan.
Malam di Muzdalifah adalah malam mempersiapkan diri secara mental untuk “perang” itu.
d. Menghidupkan sunnah dan mengikuti Nabi
Nabi ﷺ mabit di Muzdalifah dan memerintahkan sahabat untuk melakukannya.
Ibnu Umar bilang: “Nabi ﷺ sholat Maghrib dan Isya di Muzdalifah dengan satu iqamat, lalu beliau tidur sampai subuh”.
Meninggalkan mabit tanpa udzur = wajib bayar dam.
3. Yang dilakukan saat mabit
Nggak ada ritual khusus yang ribet. Yang dianjurkan:
1. Sholat Maghrib dan Isya jamak qashar begitu sampai.
2. Tidur untuk istirahat supaya kuat untuk ibadah besok.
3. Bangun malam untuk dzikir, doa, istighfar. Ini waktu mustajab.
4. Sholat Subuh di awal waktu, lalu wukuf kecil di Masy’aril Haram sebelum berangkat ke Mina.
5. Mengambil batu untuk lempar jumrah, boleh juga ambil di Mina.
4. Bedanya dengan mabit di Mina
Muzdalifah Mina
1 malam saja, malam 10 Dzulhijjah 2-3 malam, 11-13 Dzulhijjah
Wajib untuk mayoritas ulama Wajib untuk mayoritas ulama
Fokus: istirahat, dzikir, ambil batu Fokus: lempar jumrah, dzikir, takbir
Tanah terbuka, tanpa tenda khusus Ada tenda, lebih ramai
Singkatnya:
Mabit di Muzdalifah itu malam peralihan. Malam turunnya derajat dari kemuliaan wukuf, ke kesiapan menghadapi ujian lempar jumrah.
Malam untuk merendahkan diri, tidur di tanah, ingat bahwa kita semua sama di hadapan Allah, dan mengisi waktu dengan dzikir karena besok adalah hari paling besar: Hari Nahr.
Mabit ini ngajarin: ibadah itu ada capeknya, ada tenangnya, ada persiapannya. Semua diatur Allah biar hati nggak kosong.
