Bojonegoro – Upaya penguatan ekonomi kerakyatan terus digalakkan melalui pendampingan UMKM oleh BRI Cabang Ngraho. Salah satu yang menonjol adalah pengembangan usaha telur asin berbasis potensi lokal, yang kini menjadi produk unggulan dengan daya saing tinggi di pasar regional.
Pelaku UMKM telur asin di Kecamatan Ngraho memanfaatkan pasokan telur bebek dari peternak setempat, sehingga rantai pasok lebih pendek dan kualitas bahan baku terjaga. Dengan pendampingan dari BRI, pelaku usaha mendapatkan akses pembiayaan, pelatihan pengemasan, serta literasi keuangan untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi.
Pemilik UMKM Telur Asin “Sari Rasa”, Siti Nurhayati, mengaku usahanya berkembang pesat setelah menjadi binaan BRI. “Dulu produksi masih terbatas dan pemasaran hanya di sekitar desa. Sekarang kami sudah rutin kirim ke pasar kecamatan dan menerima pesanan online,” ujarnya. Ia juga menyebut kemasan kini lebih menarik dan berlabel, sehingga kepercayaan konsumen meningkat.
Bahwa telur asin dipilih sebagai produk prioritas karena memiliki permintaan stabil dan nilai tambah yang besar. “Kami dorong UMKM untuk naik kelas, mulai dari pembukuan, akses KUR, hingga pemanfaatan kanal digital. Telur asin Ngraho punya ciri khas rasa gurih dan tekstur padat, ini peluang branding,” katanya.
Selain pembiayaan, BRI juga memfasilitasi UMKM untuk bergabung dalam pameran dan bazar daerah. Langkah ini terbukti efektif membuka jejaring pemasaran baru dan mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli grosir. Dalam beberapa bulan terakhir, volume produksi Sari Rasa meningkat hampir dua kali lipat.
Dengan kolaborasi antara BRI, pemerintah desa, dan pelaku UMKM, telur asin Ngraho diharapkan menjadi ikon kuliner lokal yang mampu menembus pasar lebih luas. Ke depan, UMKM binaan BRI Cabang Ngraho menargetkan sertifikasi halal dan izin edar, agar produk semakin kompetitif dan berkelanjutan.
