KOLOM  

Ketika Kolom Komentar Lebih Menarik daripada Pernyataan Pejabat

Avatar photo

Opini: Arif Rahman Hakim

Senin malam, 15 Juni 2026. Pukul 22.58 WIB. Dua menit lagi saya mau tidur. Sebagai rakyat yang masih memiliki sisa-sisa rasa ingin tahu terhadap urusan negara, saya membuka YouTube untuk melihat berita yang sedang hangat.

Muncullah video Kompas TV, Isinya wawancara sejumlah wartawan dengan Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, usai dipanggil DPR membahas Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Saya pun bersiap mendengarkan, Posisi sudah nyaman, Volume pas, Mata fokus. Pikiran terbuka, pokoknya saya sudah sangat siap menerima ilmu dari pejabat negara.

Namun, Tiga menit kemudian saya malah nyangkut di kolom komentar, saya malah fokus baca komentar.

Bukan karena penjelasan pejabat itu buruk, Bukan juga karena saya anti pemerintah. Tetapi karena kolom komentarnya lebih menghibur daripada acara stand up comedy.

Dan sebelum ada yang emosi, saya tidak tahu apakah komentar-komentar itu ditulis buzzer, netizen biasa, tetangga sebelah rumah, atau orang-orang yang juga belum tidur seperti saya.

Ma’af, karena saya tidak punya alat pendeteksi buzzer, Tapi saya punya mata.

Yang saya lihat, lalu saya baca, menurut saya karena Kolom komentarnya jauh lebih memancarkan aura daripada penjelasan pejabatnya.

Rasanya seperti menonton pertandingan sepak bola yang pemainnya sedang latihan passing di lapangan, sementara tribun penonton sudah baku hantam, nyanyi-nyanyi, jualan gorengan, dan membakar flare.

Di layar atas, wakil Ketua BGN menjelaskan efisiensi anggaran. Di layar bawah, netizen menjawab: “Stop saja MBG, Di layar atas, wakil ketua BGN menjelaskan refocusing. Di layar bawah, netizen menjawab: “Rakyat sudah tidak percaya.”

Ada lagi, Di layar atas, Wakil Ketua BGN menjelaskan sinkronisasi data, Di layar bawah, netizen bertanya, “Lah, selama ini pakai data siapa?”

Luar biasa….! Satu pihak berbicara menggunakan bahasa birokrasi, Pihak lain menjawab menggunakan bahasa frustrasi. Dan seperti biasa, kedua bahasa itu tidak saling bertemu.

Yang satu berbicara tentang indikator. Yang satu berbicara tentang pengalaman. Yang satu berbicara tentang target. Yang satu berbicara tentang kenyataan.

Dari gambaran pernyataan komentar di video itu, kayaknya yang ditunggu sebagian masyarakat sekarang bukan lagi penjelasan, tapi mereka ingin melihat hasil.

Karena mungkin masalah terbesar program MBG ini bukan lagi soal dapur, Bukan lagi soal data, Bukan lagi soal anggaran, Melainkan soal jarak antara ucapan dan kenyataan. “MUNGKIN”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *