Opini: Arif Rahman Hakim
Politik desa kadang lebih sulit ditebak daripada ramalan cuaca. Pagi panas, siang mendung, sore hujan, malam cerah lagi.
Begitu pula yang terjadi dalam Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu (PAW) Desa Wotan, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro.
Tokoh utama kisah kali ini bernama M. Hestu Widyastomo. Statusnya masih lajang. Bahasa kerennya bachelor. Bahasa kampungnya, ya masih perjaka.
Kesehariannya mengajar di sebuah Madrasah Aliyah di Kecamatan Sumberrejo. Di sela-sela kesibukan mendidik murid, kabarnya ia juga masih berjuang menyelesaikan studi doktoralnya.
Jadi, jika benar, pastinya kalau siang mengajar, malam mungkin masih bergelut dengan jurnal, referensi, dan revisi yang jumlahnya kadang lebih banyak daripada jumlah grup WhatsApp keluarga.
Rumahnya pun bukan di Desa Wotan Wotan, Kecamatan Sumberrejo, Hestu berasal dari Dusun Klangrang, Desa Tegalkodo, Kecamatan Sukosewu.
Nah, di sinilah cerita mulai menarik.
Sejak tahapan Pilkades PAW dimulai, nama Hestu sudah menjadi bahan pembicaraan.
Bukan karena balihonya paling besar. Bukan karena konvoi pendukungnya paling panjang. Melainkan karena satu hal sederhana. Dia bukan warga Desa Wotan.
Sebagian warga pun mempertanyakan keikutsertaannya. Bahkan sempat muncul tuntutan agar calon kepala desa berasal dari putra daerah setempat.
Pada 2 Juni 2026 lalu, sekitar 50 warga mendatangi balai desa. Mereka membawa poster dan menyampaikan aspirasi agar bakal calon kepala desa berasal dari warga Wotan sendiri.
Suasananya serius. Spanduk terbentang. Orasi bergema. Dan nama calon dari luar desa ikut menjadi perbincangan.
Kalau ini sinetron, mungkin di titik ini penonton sudah bisa menebak akhir ceritanya. Calon luar desa mundur. Atau gagal lolos. Atau tersingkir di tengah jalan.
Tapi ternyata skenario Pilkades PAW Desa Wotan Kecamatan Sumberrejo ditulis oleh penulis yang suka plot twist.
Awalnya ada enam bakal calon. Tiga berasal dari Wotan. Tiga lainnya berasal dari luar desa. Kemudian digelar ujian tulis. Hasilnya cukup mengejutkan.
Peringkat pertama diraih Satria Ike Intan Kumala. Peringkat kedua Anam Warsito. Peringkat ketiga Nuky Cahyanti Rahayu. Sedangkan Hestu berada di posisi keempat.
Kalau mengikuti logika sepak bola, pertandingan seharusnya selesai di sini.
Tiga besar melaju. Yang lain pulang. Tapi hidup memang tidak selalu mengikuti tabel klasemen. Calon peringkat pertama, Satria Ike Intan Kumala, mengundurkan diri sebelum penetapan.
Dan seperti pemain cadangan yang dipanggil masuk lapangan saat injury time, Hestu naik ke bursa calon kepala desa.
Masuk, Resmi, Lolos, dan Pertandingan dimulai lagi. Hari Rabu, 10 Juni 2026, Musyawarah Desa untuk pemungutan suara digelar.
Tiga nama bertarung, Nuky Cahyanti Rahayu, M. Hestu Widyastomo. Anam Warsito. Dan Sebanyak 648 kepala keluarga memiliki hak pilih.
Suasana tegang, Pendukung berdoa, Panitia menghitung. Dan mungkin ada yang mulai menghitung kemungkinan menang sambil menghitung sisa kopi di gelas.
Lalu hasilnya keluar, Nuky memperoleh 203 suara, Anam memperoleh 21 suara, Sedangkan Hestu memperoleh 265 suara sehingga Hestu Menang dan Resmi terpilih.
Di titik inilah cerita menjadi menarik.
Karena orang yang sejak awal dianggap “orang luar” justru dipilih oleh pemilih desa itu sendiri.
Bukan dipilih gubernur, Bukan dipilih bupati, Bukan ditunjuk panitia. Melainkan dipilih melalui suara warga yang memiliki hak memilih.
Politik memang kadang unik, Di awal dianggap tidak mewakili desa, Di akhir justru dipercaya memimpin desa.
Yang lebih menarik lagi, kemenangan ini terjadi setelah proses yang penuh dinamika.
Dari aksi penolakan, Perdebatan soal calon luar desa, Ujian tulis, Hingga pergantian komposisi kandidat. Lengkap seperti paket sinetron 30 episode, hanya saja ini terjadi di dunia nyata.
Atas hasil ini, Kini babak berikutnya dimulai, Bukan lagi soal siapa warga asli dan siapa warga luar. Bukan lagi soal siapa yang dulu didukung dan siapa yang dulu ditolak.
Melainkan bagaimana kepala desa terpilih membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan warga tidak salah alamat.
Karena pada akhirnya, logikanya warga tidak memilih berdasarkan alamat rumah. Mereka memilih bisa jadi berdasarkan keyakinan.
Dan di Pilkades PAW Wotan 2026, keyakinan itu ternyata jatuh kepada seorang guru asal Tegalkodo yang awalnya bahkan tidak diunggulkan masuk tiga besar bahkan mendapat penolakan.
Kalau ada pelajaran dari kisah ini, mungkin sederhana. Dalam politik desa, kadang yang paling sulit ditebak bukan siapa yang maju. Melainkan siapa yang akhirnya dipilih.
