KOLOM  

Di Balik Viralnya “Maling Dilakban Mirip Teletubbies”: Ketika Netizen Jadi Detektif, Hakim, Sekaligus Sutradara

Avatar photo

Opini: Arif Rahman Hakim

Malam ini, seperti biasa. Jempol saya sedang menjalankan tugas kemanusiaan yang sangat mulia yakni menggulir media sosial tanpa tujuan yang jelas.

Tiba-tiba muncul sebuah video yang membuat saya berhenti menelusur.

Sebuah rekaman pendek yang memperlihatkan dua pria yang disebut-sebut sebagai pelaku pencurian.

Keduanya tampak dililit lakban rapat hingga seluruh tubuhnya tertutup dan membulat, sehingga penampilannya mirip sekali dengan karakter Teletubbies.

Bedanya, Teletubbies lahir dari dunia tontonan anak-anak yang ceria, sementara sosok dalam video ini lahir dari narasi yang belum tentu benar dan asumsi liar.

Rekaman itu pun langsung viral dan memicu beragam reaksi. Ada yang menyoroti nasib kedua pria itu, tak sedikit yang menjadikannya bahan candaan, dan kolom komentar langsung bergemuruh.

Ada yang menulis, “Maling ketangkap!” Ada yang berteriak, “Biar jera!” Bahkan banyak yang sudah menyimpulkan seluruh alur cerita hanya dari rekaman beberapa detik itu.

Padahal, hingga belum diketahui secara pasti lokasi maupun waktu kejadiannya. Informasi yang beredar sangat terbatas, hanya menyebutkan dugaan bahwa mereka adalah pencuri yang gagal melarikan diri sebelum diamankan warga.

Luar biasa! Belum ada kepastian tempat dan waktu, belum ada identitas yang jelas, belum ada kronologi utuh, tetapi vonis sudah sampai di garis finish.

Beginilah kehebatan era digital. Kadang fakta masih sedang pemanasan, tapi opini sudah lari cepat 100 meter.

Saya jadi membayangkan, jika media sosial adalah sebuah pengadilan, maka video menjadi barang bukti, narasi menjadi dakwaan, dan kolom komentar berubah menjadi ruang sidang.

Dan di sanalah, netizen seketika beralih peran menjadi detektif, penuntut, hakim, sekaligus sutradara sekaligus.

Pastinya, persidangan berlangsung sangat kilat, tak butuh saksi, tak perlu pemeriksaan, tak ada verifikasi, yang penting, heboh dan viral lebih dulu.

Padahal, ada pertanyaan sederhana yang seharusnya muncul sebelum tombol “bagikan” ditekan

Di mana kejadiannya? Kapan tepatnya peristiwa itu terjadi? Siapa sebenarnya mereka? Dan siapa yang memastikan mereka benar-benar pencuri?

Sayangnya, pertanyaan ini sering kalah populer dibandingkan kalimat singkat, “Wah, mengerikan sekali, Syukurin, Kapok, bakar saja, jangan menghakimi dan lain – lainnya.

Memang begitulah cara kerja algoritma, yakni fakta berjalan kaki, asumsi naik motor, dan kesimpulan sudah melesat naik pesawat.

Namun, menanggapi potongan video yang dinarasikan sebagai penangkapan maling itu, muncul kebenaran yang mengejutkan sekaligus menegaskan

Video viral yang menyebutkan adanya penangkapan maling yang dililit lakban itu dipastikan tidak benar dan murni merupakan berita bohong atau hoaks.

Pemilik akun @ferri_irawan02 memberikan klarifikasi tegas bahwa aksi tersebut sama sekali bukan penangkapan pencuri, dan bukan pula tindakan main hakim sendiri.

Itu hanyalah sebuah konten tantangan atau challenge yang dibuat saat siaran langsung di TikTok.

Sang pembuat konten pun menyayangkan keras tuduhan tidak bertanggung jawab dari sejumlah akun media sosial yang mengunggah ulang video tersebut dengan narasi pencurian yang menyesatkan.

Oleh karena itu, masyarakat pun diminta untuk berhenti menyebarkan hoaks tersebut agar tidak menimbulkan kesalahpahaman lebih lanjut dan tidak terus-menerus mencoreng nama baik para pembuat konten.

Singkatnya, apa yang dianggap berita kriminal serius ternyata hanya bahan hiburan belaka. Alur ceritanya bahkan lebih cepat berputar daripada sinetron yang kejar tayang.

Dari sini saya sadar, media sosial kadang bertindak seperti mesin fotokopi narasi. Satu orang menebak, sepuluh orang mengutip, seratus orang membagikan, dan ribuan orang mempercayainya.

Akhirnya, sesuatu yang belum tentu benar tampak seolah kebenaran mutlak hanya karena diulang berkali-kali.

Padahal, Viral bukanlah sertifikat kebenaran. Ramai bukan berarti tepat. Dan banyak yang percaya bukan jaminan fakta.

Di masa ketika informasi datang bertubi-tubi tanpa henti, kemampuan yang paling mahal bukan lagi kemampuan membaca, melainkan kemampuan menahan diri untuk tidak buru-buru menyimpulkan.

Bisa jadi, apa yang kita tonton bukanlah peristiwa kriminal, bukan pula aksi penghukuman warga, melainkan sekadar konten yang tersesat di jalan raya informasi, lalu tertabrak oleh truk bernama asumsi liar.

Maka, sebelum kita ikut menjadi hakim di kolom komentar, ada baiknya kita menjadi penyelidik kecil terlebih dahulu. Bertanya, memeriksa, mencari sumber yang jelas, dan menunggu klarifikasi resmi.

Sebab di era media sosial ini, yang paling berbahaya bukanlah berita bohong yang sengaja dibuat-buat, melainkan kesimpulan yang lahir terlalu cepat. Dan sering kali, korban pertamanya adalah akal sehat kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *