Bojonegoro – Di tengah arus modernisasi industri makanan, UMKM Mashallo asal Desa Kapas, Bojonegoro, justru memilih jalan yang unik: mengolah bahan-bahan sederhana dari pekarangan menjadi produk camilan bernilai ekonomi tinggi.
Pelepah pisang, daun kelor, hingga mindik sengon yang selama ini dipandang sebelah mata, di tangan Yuni Astuti berubah menjadi produk pangan kreatif yang diminati pasar digital.
Inovasi ini bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang cara pandang terhadap potensi lokal. “Semua bahan kami ambil dari sekitar rumah. Yang penting bersih, sehat, dan bisa diolah dengan standar yang baik,” ujar Yuni.
Menurutnya, pekarangan rumah bukan sekadar halaman, tapi lumbung kecil yang bisa menopang ekonomi keluarga.
Mashallo hadir sebagai contoh nyata bagaimana UMKM bisa memadukan kearifan lokal dengan teknologi digital.
Produk camilan Mashallo kini dipasarkan melalui marketplace seperti Shopee serta media sosial, menjangkau konsumen dari berbagai daerah. Dengan harga terjangkau mulai Rp15 ribu, Mashallo mampu bersaing dengan produk camilan pabrikan.
Tak hanya berorientasi pada keuntungan, Mashallo juga membawa misi sosial. Yuni melibatkan ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya untuk membantu proses pengemasan saat pesanan meningkat.
Bagi mereka, ini bukan sekadar pekerjaan sambilan, tetapi ruang belajar ekonomi dan kemandirian.
“Biar ibu-ibu tidak hanya di rumah, tapi juga punya aktivitas produktif. Lumayan buat tambahan belanja,” katanya.
Model usaha seperti Mashallo menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi desa bisa dimulai dari hal kecil: memaksimalkan potensi lokal, mengolahnya dengan kreativitas, dan memasarkannya dengan cara modern. Di tengah tantangan ekonomi, UMKM seperti Mashallo menjadi bukti bahwa desa bukan hanya objek pembangunan, melainkan subjek yang mampu tumbuh dari kekuatannya sendiri.
Dengan konsistensi dan inovasi, Mashallo tak sekadar menjual camilan—tetapi juga menanam harapan bagi ekonomi keluarga dan desa. (Red).
