KOLOM  

Razia Datang, Prostitusi di Desa Pacing Menghilang, Razia Pulang, Siapa yang Datang Lagi?

Avatar photo
Salah satu lokasi yang kena razia aparat gabungan.

Bojonegoro, UpWarta.com – Kalau ada penghargaan untuk tempat paling sakti di Kabupaten Bojonegoro, mungkin kawasan yang di kenal diduga sebagai lokasi Prostitusi di tanggul Desa Pacing, Kecamatan Sukosewu, layak masuk nominasi.

Bukan karena punya wisata kelas dunia. Bukan pula karena menghasilkan padi super, Melainkan karena memiliki kemampuan langka, setiap kali ada razia datang, aktivitas yang dicari ikut menghilang.

Seolah-olah lokasi itu memiliki alarm canggih melebihi teknologi satelit, Begitu aparat bergerak, suasana mendadak lengang, yang tersisa hanya kamar kosong, kursi Kosong dan angin yang ikut pura-pura tidak tahu apa-apa.

Harap tenang ya. Ini bukan cerita fiksi ilmiah. Ini cerita yang sudah lama beredar di masyarakat.

Bahkan sebelum ada media ramai memberitakan, nama kawasan tanggul Desa Pacing sudah di kenal warga sebagai lokasi yang diduga menjadi tempat prostitusi dan di salah satu warung menyediakan miras yang berkedok warung kopi.

Bukan setahun dua tahun. Cerita itu sudah berumur cukup panjang hingga nyaris menjadi pengetahuan umum di kalangan warga sekitar di dalam kecamatan Sukosewu sendiri  bahkan bisa jadi juga sudah di dengar dari luar kecamatan.

Hari Rabu, (8/7/2026) siang aparat gabungan kembali menggelar razia. Saat Razia, tujuh tempat di lokasi itu diperiksa. Dugaan praktik prostitusi disisir. Minuman beralkohol dicek. Hasilnya? Nihil.

Kalau sepak bola kita kenal dengan skor 0-0, namun di dunia penertiban punya istilah sendiri yakni “nihil temuan.”

Yang menarik justru bukan hasil razianya, melainkan cerita yang selalu menyertainya. Sebab menurut sejumlah warga, sejak dulu lokasi tersebut sudah berkali-kali menjadi sasaran operasi.

Namun pola yang muncul nyaris selalu sama. ketika aparat datang, tempat itu sepi, dan berubah menjadi warung kopi, Ketika operasi selesai, dan beberapa waktu kemudian protitusi di tempat itu di kabarkan ada lagi.

“Entahlah bos. Yang jelas, jika saya dengar cerita dari pengakuan warga, lalu ku cermati alurnya, saya analogikan, lokasi itu seperti pemain sepak bola profesional. Selalu tahu kapan wasit mau datang.

Tapi jangan suudzon dulu, bijaknya, sambil seruput kopi, kita pantau saja dulu, kedepan bagaimana perkembangannya, siapa tau cerita yang beredar di warga alurnya sudah tidak sama dengan sebelumnya.

Opini: Arif Rahman Hakim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *