BOJONEGORO UpWarta.com – Di tengah gempuran era digital dan serba cepatnya kehidupan modern, masih ada tradisi lawas yang terus bertahan, khususnya seperti bulan saat ini, yakni bulan Suro.
Salah satunya adalah jamasan pusaka, sebuah ritual perawatan benda-benda warisan seperti keris dan tombak yang hingga kini masih dipercaya penting oleh sebagian masyarakat.
Pada Minggu (21/6/2026) sekitar pukul 15.00 WIB, suasana rumah Agus Wandono (45), warga RT 01 RW 02 Desa Tegalkodo, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, tampak lebih sibuk dari biasanya.
Di tempat sederhana itulah jasa jamas pusaka atau mencuci pusaka dijalankan dengan penuh ketelatenan dan kehati-hatian.
Saat dikunjungi, seorang pelanggan dari luar desa terlihat datang membawa empat bilah keris dan satu tombak untuk menjalani proses jamasan.
Benda-benda pusaka tersebut ditangani satu per satu, layaknya pasien yang sedang menjalani perawatan khusus.
Bagi para pecinta tosan aji, istilah yang digunakan untuk benda pusaka berbahan logam seperti keris dan tombak, jamasan bukan sekadar kegiatan mencuci biasa.
Ada proses membersihkan bilah dari kotoran, karat halus, hingga menjaga agar pamor tetap terlihat jelas dan tidak rusak.
Agus menjelaskan, dirinya hanya menyediakan jasa pencucian dan perbaikan pusaka. Untuk urusan minyak pusaka, ia menyerahkan sepenuhnya kepada masing-masing pemilik.
“Kalau minyak biar pemiliknya sendiri. Saya fokus di jasa mencuci dan memperbaiki,” ujarnya.
Menariknya, proses pencucian yang dilakukan masih mempertahankan cara-cara tradisional. Bahan yang digunakan bukan cairan kimia modern, melainkan buah mengkudu atau yang oleh sebagian warga dikenal dengan sebutan pace, serta jeruk pecel.
Ramuan alami tersebut dipercaya mampu membantu membersihkan bilah pusaka tanpa mengurangi karakter asli logamnya. Aroma khas buah Jeruk Pecel yang cukup tajam seolah menjadi “parfum wajib” dalam proses perawatan benda-benda bersejarah tersebut.
Di kalangan penggemar keris, menjaga kondisi bilah bukan perkara sepele. Ada istilah warangka untuk sarung keris, ganja sebagai bagian dasar bilah, hingga pamor yang merupakan motif alami hasil perpaduan logam saat proses tempa. Semua bagian itu memerlukan perhatian tersendiri agar tetap terawat.
Meski terlihat sederhana, proses jamasan membutuhkan ketelitian tinggi. Salah penanganan bisa membuat pamor memudar, bilah mengalami korosi, atau bahkan mengurangi nilai historis sebuah pusaka.
Bagi masyarakat yang ingin menggunakan jasanya, Agus membuka layanan datang langsung ke rumah maupun layanan panggilan ke lokasi pelanggan.
Masyarakat yang membutuhkan jasa jamas pusaka dapat menghubungi Agus Wandono melalui nomor 0858-5462-8913.
Di tengah dunia yang semakin modern, keberadaan jasa jamasan tradisional seperti ini menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tidak hanya disimpan, tetapi juga dirawat.
Sebab bagi sebagian orang, keris dan tombak bukan sekadar benda logam tua, melainkan jejak sejarah, karya empu, sekaligus simbol budaya yang tetap dijaga dari generasi ke generasi.
Penulis: Arif Rahman Hakim.
