Refleksi Milad Pemuda Muhammadiyah ke 94: Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya

Avatar photo

Bojonegoro, UpWarta.com –  Memasuki usia ke-94 tahun, Pemuda Muhammadiyah bukan sekadar sedang merayakan angka. Lebih dari itu, organisasi ini sedang menempuh ujian sejarah. Mengusung tema “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya”, refleksi ini menjadi krusial di tengah lanskap dunia yang sedang mengalami disrupsi multidimensi. Kita tidak lagi hidup dalam tatanan yang linier; kita berada dalam era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang menuntut ketajaman arah dan kekokohan prinsip.

Pertumbuhan: Melampaui Status Quo

Dalam sosiologi gerakan, “bertumbuh” sering kali disalahpahami hanya sebagai ekspansi kuantitatif. Namun bagi Pemuda Muhammadiyah, bertumbuh adalah sebuah keniscayaan adaptif. Di era ekonomi digital dan kecerdasan buatan, gerakan pemuda tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu atau sekadar menjadi “penonton sejarah.”

Pertumbuhan yang dimaksud adalah ekskalasi kualitas intelektual. Pemuda Muhammadiyah harus mampu memproduksi gagasan kompetitif yang menjadi solusi atas kompleksitas sosial. Kita ditantang untuk melakukan rekayasa sosial yang berbasis pada knowledge-based movement. Artinya, inovasi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan tulang punggung gerakan untuk merespons ketimpangan, krisis iklim, hingga tantangan geopolitik global.

Kekuatan Akar: Resiliensi di Tengah Arus Posmodernisme

Namun, sejarah mencatat bahwa banyak gerakan yang tumbuh pesat justru berakhir tumbang karena kehilangan orientasi. Di sinilah pentingnya filosofi “mengakar.” Mengakar bagi Pemuda Muhammadiyah berarti meneguhkan kembali komitmen pada nilai tauhid yang murni dan etos Islam Berkemajuan.

Di tengah gempuran ideologi posmodernisme yang sering kali memicu relativisme moral dan pragmatisme politik, akar nilai inilah yang menjadi stabilizer. Nilai Islam mencerahkan bukan sekadar jargon, melainkan landasan epistemologis agar setiap langkah organisasi tidak kehilangan makna. Tanpa akar yang menghujam pada etos keilmuan dan keikhlasan pengabdian, pertumbuhan hanya akan menghasilkan kerapuhan identitas.

Indonesia Jaya: Sebuah Panggilan Sejarah

Visi “Indonesia Jaya” bukanlah sebuah utopia retoris. Ini adalah proyeksi strategis tentang kedaulatan bangsa. Pemuda Muhammadiyah memiliki tanggung jawab sejarah untuk menjadi jembatan antara tradisi keagamaan yang kokoh dan modernitas yang inklusif.

Indonesia hari ini membutuhkan aktor-aktor perdamaian yang mampu merawat kebhinekaan sekaligus memperjuangkan keadilan struktural. Dengan wajah Islam yang membebaskan, Pemuda Muhammadiyah harus hadir di garis depan dalam membela kaum mustadh’afin (kelompok marginal) dan mengawal kebijakan publik agar tetap berpihak pada kemaslahatan umum (bonum commune).

Kesimpulan: Pohon Peradaban

Milad ke-94 ini harus menjadi momentum transisi dari gerakan yang bersifat reaktif menuju gerakan yang proaktif-kontributif. Kita harus mampu menjadi seperti “Pohon Peradaban”: daunnya rimbun menyapa langit kemajuan (bertumbuh), akarnya memeluk bumi realitas sosial (mengakar), dan buahnya dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.

Jika bertumbuh adalah ikhtiar dan mengakar adalah kekuatan, maka Indonesia Jaya adalah muara yang harus kita wujudkan. Milad ini adalah janji untuk terus bergerak, karena bagi Pemuda Muhammadiyah, berhenti berarti mati, dan diam berarti pengkhianatan terhadap masa depan.

Fastabiqul Khairat.

Mohammad Nasruddin
Bendahara PDPM Bojonegoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *