BOJONEGORO — Inovasi pembayaran digital terus merambah ke sektor usaha mikro. Kini, membeli sate di warung kaki lima pun bisa dilakukan secara nontunai melalui QRIS BRI. Kemudahan ini dirasakan langsung oleh pedagang dan pembeli yang menginginkan transaksi cepat, aman, dan praktis.
Di salah satu warung sate di pusat Kota Bojonegoro, suasana tampak lebih tertib. Pembeli cukup memindai kode QRIS BRI yang terpajang di meja kasir, lalu memasukkan nominal pembayaran melalui aplikasi BRImo atau aplikasi perbankan lainnya. Dalam hitungan detik, transaksi selesai tanpa perlu repot mencari uang kembalian.
“Dulu sering ribet kalau pembeli bayar pakai uang besar, harus cari kembalian. Sekarang tinggal scan, beres,” ujar Suyanto, pedagang sate yang sudah tiga bulan menggunakan QRIS BRI. Menurutnya, sejak memakai QRIS, pembukuan juga lebih rapi karena semua transaksi tercatat otomatis. “Saya bisa cek pemasukan harian lewat aplikasi, jadi lebih gampang mengatur stok dan belanja bahan,” tambahnya.
Dari sisi pembeli, kemudahan ini terasa sangat membantu. Rina, salah satu pelanggan, mengaku lebih nyaman bertransaksi nontunai. “Kadang lupa bawa uang cash. Dengan QRIS BRI, saya tetap bisa beli sate favorit tanpa khawatir,” katanya. Ia juga menilai pembayaran digital lebih higienis dan cepat, apalagi saat jam ramai.
BRI terus mendorong adopsi QRIS di kalangan UMKM sebagai bagian dari transformasi digital. Melalui QRIS BRI, pedagang tidak hanya menerima pembayaran dari nasabah BRI, tetapi juga dari berbagai bank dan dompet digital lain yang terhubung dalam sistem QRIS nasional.
Dengan semakin luasnya penggunaan QRIS BRI, transaksi di warung-warung tradisional seperti penjual sate menjadi lebih modern tanpa menghilangkan kehangatan interaksi antara pedagang dan pembeli. Digitalisasi pun hadir sebagai solusi yang memperkuat usaha kecil agar makin berdaya saing di era ekonomi digital.

