Oleh: Arif Rahman Hakim
Kita update lagi soal kisah yang tak ada habisnya di pinggir tanggul irigasi Desa Pacing, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa timur.
Dimana cerita yang telah menjadi rahasia umum yang selalu menyertainya, dilokasi itu sudah berkali-kali menjadi sasaran operasi, namun berubah hanya sebuah warung kopi jika ada patroli.
Jika di simak terus ceritanya, Kawasan ini ibarat anak kecil yang hafal betul sifat orang tuanya, tahu kapan harus pura-pura tidur, tahu kapan harus bersembunyi saat disuruh beres-beres.
Seperti, kalo nggak salah awal Juli tahun ini juga ada berita, di lokasi ini yang awalnya cuma ada 2 titik tempat Prostitisi, seiring berjalannya waktu, lalu tumbuh subur jadi 7 tempat.
Kalau dihitung-hitung, pertumbuhannya lebih cepat daripada pertumbuhan murid di sekolah, lebih rajin berkembang daripada tanaman yang disiram tiap hari dengan pupuk subsidi.
Tapi sayang, yang tumbuh bukan hasil bumi yang memberi berkah, melainkan hal yang bikin orang dan tetangga yang masih terus berjuang memegang budaya geleng-geleng kepala.
Kemudian ada lagi, berita lokal pada tanggal 8 Juli kemarin, di mana rombongan aparat sudah datang, geledah sana-sini, cek minuman, cek kamar. Hasilnya? Seperti cari jarum di tumpukan jerami, tak ketemu juga.
Saat itu, Kamar kosong, minumannya aman, seolah tempat itu cuma warung kopi biasa yang sepi pembeli. Padahal sehari sebelumnya warga masih berbisik-bisik kalau suasananya tak begitu saja.
Nah, Hari ini, ada lagi berita lokal, Kamis (30/7/2026), isinya, giliran Ibu Nurul Azizah Wakil Bupati, orang nomor dua sekaligus ibarat “Ibu Besar” di kabupaten ini turun langsung ke lokasi.
Beliau datang bukan sekadar mau nampang, tapi seperti orang tua yang jadwalnya begitu padat lalu menyempatkan waktu menghampiri anaknya yang mulai melenceng.
Didampingi, Kasatpol pp, wakil ketua DPRD, Dinas Kesehatan, DLH, Camat, Kapolsek, Danramil, Kepala Desa, sampai para penegak aturan semua ikut, lengkap bagai rombongan keluarga yang mau menegur anggota keluarganya sendiri.
Tapi lagi-lagi kebetulan terjadi. Saat beliau datang, lagi-lagi tak ada apa-apa. Yang ada cuma bangunan dengan sekat-sekat kamar yang bikin orang bertanya-tanya, dan jawaban pemilik yang santun bilang “nggak setiap hari ada tamu, Bu”.
Persis seperti cerita yang telah menjadi rahasia umum bertahun – tahun, pengelola tempat itu, sepertinya sudah hafal betul aturan mainnya, selama tangan tak tertangkap di atas piring, selama tak ada bukti yang terang benderang, sekeras apa pun teguran, tak bisa apa-apa.
Ibaratnya, seperti anak yang tahu kalau tak ada saksi, dosa jadi milik sendiri, sehingga seolah teguran hanya jadi sekadar kata-kata biasa.
Tapi Ibu Wakil Bupati datang bukan untuk main hakim sendiri. Beliau datang seperti orang tua yang mengingatkan,
“Nak, tahu tidak jumlah saudara kita yang sakit HIV/AIDS di Bojonegoro datanya sudah hampir 4.700 orang? Itu bukan angka main-main. Itu nyawa, itu masa depan anak-anak kita.”
Beliau tak marah-marah, beliau malah menawarkan jalan keluar,
“Kenapa tak diubah jadi warung makan, jajanan khas desa? Biar rezekinya berkah, tak bikin orang susah, tak merusak rumah tangga orang lain.”
Ibarat orang tua menasehati, “Kalian ini sebenarnya pintar, rajin cari uang. Sayang sekali kalau caranya yang salah. Kalau terus begini, ibarat pepatah Jawa, menang nanti jadi abu, kalah jadi arang. Tak ada yang untung, semuanya rugi.”
Dalam berita hari ini yang saya baca, Wakil Bupati Bojonegoro juga memberi perintah kepada bawahanya, satu minggu lagi akan dicek kembali.
Nah, ini ujian sebenarnya. Apakah sekadar saat ada petugas saja berubah jadi anak rajin, lalu beberapa hari setelahnya kembali seperti kera lepas tali?
Atau ini kesempatan terakhir untuk mereka berubah, sebelum teguran berubah jadi tindakan yang tak lagi memberi ruang maaf?
Karena kabarnya sejumlah warga di Desa itu, yang masih memegang budaya, sudah lama menahan rasa, tapi mereka takut bersuara, meski hatinya sedih melihat kampungnya begini.
Hari ini Ibu Wakil Bupati sudah turun tangan, sudah menasehati seperti anak sendiri. Tinggal mereka yang menentukan, mau terus jadi anak nakal yang pura-pura berubah, atau beralih jalan jadi warga yang membawa berkah bagi desa sendiri?
Ingat, teguran itu tanda masih sayang. Kalau sudah tak ditegur lagi, dan sudah keluar peringatan, berarti sudah saatnya hukum di berlakukan.
Dengan tulisan di atas, semoga juga bisa menjadi contoh lokasi lain agar tidak menjadi anak nakal, karena bisnis seperti itu melanggar aturan yang tinggal menunggu untuk ditertibkan
