BERITA  

Janda dan Duda Gen Z dan Milenial di Bojonegoro Tinggi, Judi Online hingga Pinjol Jadi Biang Kerok

Avatar photo

Bojonegoro  – Perceraian pasangan muda usia 18–30 tahun di Kabupaten Bojonegoro masih menunjukkan angka tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Ironisnya, penyebab keretakan rumah tangga generasi muda kini tak lagi sekadar persoalan ekonomi klasik, melainkan merambah ke judi online, hutang online, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Berdasarkan data perkara perceraian
di Pengadilan Agama Bojonegoro usia 18–30 tahun, gugatan cerai dari pihak istri masih mendominasi setiap tahunnya. Pada 2023, tercatat 1.143 gugatan cerai diajukan oleh istri, sedangkan 920 gugatan diajukan oleh suami.

Angka itu meningkat pada 2024, dengan 1.170 gugatan dari istri dan 850 gugatan dari suami.

Sementara pada 2025, jumlah perceraian sedikit menurun namun tetap tinggi, yakni 1.106 gugatan dari pihak istri dan 827 gugatan dari pihak suami.

“Hingga awal 2026, telah masuk 294 gugatan cerai dari istri dan 205 gugatan dari suami,” ungkap Ketua Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro, Sholikin Jamik.

Dari data penyebab perkara yang masuk, judi online menjadi faktor paling dominan yang memicu perceraian dari pihak suami.

Kebiasaan berjudi secara digital disebut kerap membuat pendapatan keluarga habis tanpa kejelasan, memicu kebohongan dalam rumah tangga, hingga menimbulkan konflik berkepanjangan antara pasangan.

“Tak sedikit istri yang akhirnya memilih menggugat cerai karena suami dianggap tak lagi mampu menjalankan tanggung jawab ekonomi keluarga akibat kecanduan judi online,” ujarnya.

Sementara itu, dari pihak perempuan, hutang online atau pinjaman digital menjadi salah satu penyebab utama konflik rumah tangga. Kemudahan akses pinjaman instan melalui aplikasi dinilai mendorong sebagian pasangan muda terjebak dalam lilitan utang tanpa perencanaan keuangan yang matang.

“Kondisi tersebut kerap memicu pertengkaran ketika utang menumpuk dan berdampak pada keuangan rumah tangga,” imbuhnya

Selain faktor ekonomi digital, pertengkaran terus-menerus dan kasus KDRT juga masih menjadi penyebab dominan kandasnya rumah tangga pasangan muda di Bojonegoro.

“Buruknya komunikasi, emosi yang tidak terkendali, hingga minimnya kedewasaan dalam menyelesaikan konflik disebut menjadi akar persoalan yang terus berulang,”jelas Sholikin Jamik

Fenomena ini menjadi sinyal serius bahwa banyak pasangan muda masih belum memiliki kesiapan utuh sebelum memasuki jenjang pernikahan. Di tengah tekanan gaya hidup digital, budaya serba instan, serta derasnya pengaruh media sosial, pernikahan kini tak cukup hanya bermodal cinta.

Kesiapan mental, kedewasaan emosional, literasi keuangan, hingga kemampuan mengelola konflik menjadi fondasi penting agar rumah tangga mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan zaman.

“Jika tren ini terus berlanjut, tingginya perceraian usia muda dikhawatirkan tak hanya berdampak pada pasangan. Tetapi juga memengaruhi tumbuh kembang anak, stabilitas keluarga, hingga ketahanan sosial masyarakat secara lebih luas,” pungkasnya (Udin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *