Bojonegoro UpWarta.com — Tokoh nasional sekaligus pengusaha H. Mohammad Suprapto Santoso membagikan kisah perjalanan hidup dan kariernya dalam talk show bertajuk From Zero to Hero yang digelar di Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro.
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Gedung Goufan, Jalan Veteran, Bojonegoro, dan diikuti civitas akademika Unugiri. Acara juga dimeriahkan dengan berbagai hiburan.
Talk show tersebut mengangkat kisah perjuangan menuju kesuksesan, mulai dari menghadapi kegagalan, membangun ketangguhan, hingga pentingnya kemauan untuk terus belajar.
Dalam sambutannya, Ketua BBP Unugiri menyampaikan apresiasi atas kehadiran Suprapto Santoso yang datang dari Jakarta di tengah kesibukannya.
“Betul-betul ini anugerah. Di tengah kesibukan beliau bisa hadir di Unugiri. Beliau adalah pembina kita, Dewan Pembina Unugiri, yang banyak dan sering datang untuk melihat, meninjau, dan memberikan banyak masukan,” ujarnya.
Kehadiran Suprapto Santoso dimanfaatkan mahasiswa untuk mendapatkan wawasan dan motivasi mengenai dunia kerja, bisnis, serta bagaimana membangun masa depan melalui kerja keras dan kemauan belajar.
Dalam sesi talk show, Suprapto menceritakan perjalanan kariernya yang dimulai dari bawah. Ia pernah bekerja sebagai buruh atau karyawan di perusahaan ekspor kayu sebelum kemudian dipercaya menduduki posisi manajer.
Ia mengungkapkan pernah menargetkan dirinya bisa menjadi manajer dalam waktu lima tahun. Namun, berkat kerja keras dan kemauan mempelajari berbagai hal tentang perusahaan, target tersebut justru tercapai sekitar satu setengah tahun.
Setelah itu, ia memiliki target jangka panjang untuk menjadi eksportir secara mandiri.
Menurut Suprapto, salah satu kunci dalam perjalanan tersebut adalah kemauan untuk belajar. Ia juga menekankan pentingnya membaca, termasuk ketika menghadapi keterbatasan kemampuan bahasa Inggris.
“Di dunia ini tidak ada yang sulit. Yang sulit karena orang tidak mau belajar. Di Australia saja, anak berumur lima tahun sudah bisa berbahasa Inggris, kenapa kita tidak bisa?” tuturnya.
Ia mengaku banyak mempelajari buku dan literatur ekspor berbahasa Inggris. Kebiasaan membaca tersebut tidak hanya menambah pengetahuan tentang bisnis, tetapi juga membantunya memahami bahasa yang dibutuhkan dalam pekerjaannya.
Pengalaman bekerja di industri pengolahan kayu juga menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya. Ia menceritakan pengalaman mulai dari proses pembelian kayu di Muara Teweh, pengangkutan melalui sungai, hingga pengiriman logistik menuju Banjarmasin.
Kepada mahasiswa Unugiri, Suprapto mengapresiasi perkembangan kampus yang kini memiliki sekitar 7.000 mahasiswa serta terus menambah fasilitas gedung perkuliahan.
Ia berpesan agar mahasiswa tidak mudah menyerah, terus belajar, memperbanyak membaca, dan aktif mengembangkan kemampuan di luar materi yang diperoleh di bangku kuliah.
“Ilmu yang kita dapatkan di bangku kuliah hanya sekitar 30 persen ketika diimplementasikan di tempat kerja,” pesannya.
Karena itu, mahasiswa didorong untuk terus berinovasi dan belajar dari pengalaman orang lain. Ia juga merekomendasikan sejumlah buku dan tokoh yang menurutnya dapat menjadi referensi pengembangan diri, di antaranya Dale Carnegie, Robert Kiyosaki, Napoleon Hill, Bob Sadino, Andrie Wongso, dan Rhenald Kasali.
Selain berbagi pengalaman bisnis, Suprapto Santoso juga dikenal sebagai sosok yang berkaitan dengan perkembangan klub bola voli Bintang Timur. Klub tersebut disebut telah meraih lima gelar juara nasional serta menghadirkan pemain-pemain kelas dunia.
Dalam kesempatan tersebut, turut disampaikan komitmen dukungan terhadap pengembangan fasilitas fisik Unugiri, seiring meningkatnya jumlah mahasiswa dan kebutuhan ruang perkuliahan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan pembacaan Surah Al-Fatihah. Doa ditujukan agar Suprapto Santoso senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, kemudahan dalam menjalankan usaha, serta kelancaran dalam membimbing civitas akademika Unugiri. (SKM)
