BOJONEGORO UpWarta.com – Pagi tadi di Desa Sidodadi, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (9/9/2026), terasa berbeda. Jalan desa menuju Punden Balong dipenuhi warga yang membawa gunungan hasil bumi.
Senyum, sapaan, ada pula suara tonglek, dan semangat gotong royong berpadu menjadi satu dalam Sedekah Bumi Dusun Balong, Kedungpapak, dan Bitingan.
Tradisi tahunan ini bukan sekadar kirab hasil bumi. Gunungan menjadi simbol rasa syukur atas rezeki sekaligus gambaran guyup rukunnya masyarakat.
Kegiatan tahun ini mengusung tema “Dengan Semangat Guyup Rukun, Mari Kita Wujudkan Desa Sidodadi Maju, Makmur, dan Sejahtera.”
Bagi warga, sedekah bumi bukan sekadar event budaya. Ada filosofi nguri-uri tradisi, nyuwun berkah, bersyukur atas hasil bumi, dan tentunya menjaga paseduluran
Rangkaian kegiatan dimulai sejak Selasa malam dengan tahlilan di Punden Balong. Warga berkumpul, memanjatkan doa sebagai ungkapan syukur sekaligus mengenang para leluhur.
Pagi harinya, gunungan hasil bumi dikirab dari Balai Desa Sidodadi menuju Punden Balong. Berbagai hasil pertanian dan panganan disusun menjulang menyerupai gunung.
Ada pula kesenian tonglek oleh para pemuda setempat, kirab pun terlihat berlangsung meriah. Anak-anak ikut menyaksikan, orang tua menikmati suasana, sementara para pemuda menunjukkan bahwa generasi muda juga bisa menjadi garda depan pelestarian tradisi.
Tonglek pun seolah menjadi sound system tradisional. Bunyinya sederhana, tetapi pesannya luar biasa, menunjukkan tradisi masih punya tempat di tengah zaman yang serba modern.
Sesampainya di Punden Balong, warga mengikuti tasyakuran bersama. Gunungan hasil bumi menjadi simbol bahwa rezeki bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga disyukuri dan dibagikan.
Setelah tasyakuran, masyarakat disuguhi pagelaran Wayang Thengul. Seni tradisional khas Jawa ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media menyampaikan pesan kehidupan melalui cerita, humor, karakter, dan filosofi.
Ada yang datang untuk menyimak cerita, ada pula yang awalnya sekadar mampir sebentar. Namun dalam dunia pewayangan, kata sebentar kadang bisa berubah menjadi berjam-jam.
Rangkaian budaya kemudian berlanjut pada malam hari melalui Malam Budaya Langen Tayub di Balai Desa Sidodadi.
Dari pagi hingga malam, warga seolah di ajak menikmati perjalanan budaya, kirab gunungan, tasyakuran, Wayang Thengul, hingga Langen Tayub.
Kemeriahan Sedekah di Punden Balong Desa Sidodadi ini juga turut dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah bersama jajaran Forkopimcam Sukosewu.
Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian tradisi dan kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat.
Lebih dari sekadar seremoni, Sedekah bumi di punden Balong menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya berbicara soal infrastruktur. Ada pula pembangunan karakter, pelestarian budaya, dan penguatan modal sosial masyarakat.
Di tengah zaman yang terus bergerak cepat, tradisi menjadi semacam “rem budaya”. Bukan untuk menghambat kemajuan, tetapi agar masyarakat tidak lupa pada akar dan jati dirinya.
Sebab desa yang maju bukan desa yang meninggalkan tradisi, melainkan desa yang warganya selalu bersyukur, desa yang mampu menjaga akar, merawat persaudaraan, dan menatap masa depan bersama.
Dari Punden Balong, pesan itu pun kembali digaungkan, Maju desanya, makmur warganya, lestari budayanya, guyup rukunnya.
Penulis: Sony
Editor: Redaksi UpWarta.com
