Opini: Arif Rahman Hakim
Bojonegoro Upwarta.com – Kalau dunia jaranan punya kasta, maka Singo Guntur Bawono layak disebut kelas “premium rasa sultan”. Tampil di Lapangan Dusun Gandu, Desa Purwoasri, Sabtu malam (25/7/2026) tadi.
Kelompok jaranan Campursari asal Desa Tegalkodo, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro ini sukses membuat ribuan pasang mata terpaku dan lupa waktu.
Bukan sekadar pentas biasa, mereka menggelar semacam “rapat akbar” yang memadukan budaya, adrenalin, dan hiburan mutlak.
Begitu pecut para pawang membahana dari empat penjuru mata angin, suasana langsung berubah magis. Bulu kuduk berdiri, mata penonton membelalak, sementara mulut tanpa sadar berucap:
“Nah, iki sing diarani jaranan tenan!”
Lalu keluarlah Barongan. Bukan sekadar berjalan, ia tampil dengan aura “bos besar”. Langkahnya berwibawa, tatapannya tajam, seolah sedang melakukan inspeksi mendadak ke seluruh penjuru lapangan.
Anak-anak bersorak riang, orang dewasa terpukau, sampai pedagang pun seolah mendadak lupa menawarkan dagangannya.
Para penari kuda lumping tampil tanpa rem. Gerakannya luwes, kompak, dan penuh tenaga. Kalau istilah sepak bola, mereka bermain “full pressing” sejak awal sampai akhir. Kalau bahasa otomotif, gasnya mentok di pol, remnya cuma dipakai saat ganti adegan.
Belum selesai rasa kagum mereda, muncullah tokoh Celengan dengan gerakan khasnya yang unik, diikuti aksi para penari yang memasuki alam kesurupan.
Kemudian hadir Bujang Ganong yang jungkir balik ke sana kemari seolah hukum gravitasi sedang cuti bersama. Tingkah jenakanya benar-benar spesialis pencuri tawa, membuat tepuk tangan penonton tak putus-putus.
Kemudian giliran Dadak Merak dan Bantengan yang meramaikan panggung. Suasana makin memuncak saat Harimau dan Kera turun ke gelanggang. Atraksi makan ayam hidup membuat penonton campur aduk antara takjub, merinding, dan tak sanggup berkedip.
Di tengah semua kemeriahan itu, Barongan tetap menjadi primadona, berwibawa layaknya raja rimba yang sedang menggelar sidang agung budaya.
Puncaknya, ketika beberapa pemain barongan memasuki fase trance, para pawang menunjukkan kelas aslinya. Dengan tenang, sigap, dan penuh pengalaman, mereka mengendalikan situasi hingga seluruh prosesi berjalan aman dan terhormat.
Bagi para pecinta jaranan, inilah bagian paling sakral, perpaduan seni, tradisi, keberanian, dan kearifan lokal dalam satu panggung.
Malam tadi, Singo Guntur Bawono bukan hanya sekadar tampil. Mereka memberi pelajaran berharga bahwa kesenian tradisional tak pernah kehilangan taringnya.
Di tengah gempuran hiburan modern, mereka tetap sanggup membuat ribuan orang terpaku, betah mendengar denting gamelan, dan bangga memiliki warisan budaya yang luar biasa.
Singkatnya, kalau ada penghargaan “penyebab penonton gagal pulang cepat”, grup jaranan Singo Guntur Bawono sudah pasti layak masuk nominasi.
