Bojonegoro UpWarta.com – Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menegaskan pentingnya pelestarian bahasa Jawa melalui dunia pendidikan.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-44 Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro (PSJB) yang digelar di Waroeng Bucu Coffee, Rabu (22/7/2026).
Peringatan HUT PSJB diawali dengan prosesi potong tumpeng, kemudian dilanjutkan sarasehan bertema “Peran Pemangku Kebijakan dalam Menjaga Eksistensi Sastra Jawa pada Era Digitalisasi.”
Dalam sambutannya, Nurul Azizah mengucapkan selamat atas perjalanan panjang PSJB yang telah memasuki usia 44 tahun.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro saya mengucapkan selamat kepada PSJB yang kini berusia 44 tahun. Semakin bertambah usia organisasi, semakin banyak pula inovasi kegiatan yang diharapkan lahir,” ujarnya.
Ia mengatakan, bahasa Jawa harus mendapat perhatian serius dari seluruh pihak. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus mendorong agar bahasa Jawa menjadi muatan lokal di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Menurutnya, langkah tersebut penting agar generasi muda tetap mengenal, mencintai, dan tidak kehilangan identitas budaya Jawa.
Selain itu, Nurul juga menyinggung kekayaan budaya lokal Bojonegoro, salah satunya filosofi Samin yang tercermin dalam motif Batik Obor Sewu. Filosofi tersebut mengandung nilai kesabaran, kejujuran, menerima dengan ikhlas (nrimo), serta keteguhan.
“Udheng Obor Sewu kini menjadi ciri khas Bojonegoro. Setiap hari Rabu, ASN mengenakan udheng tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya,” katanya.
Sementara itu, Ketua PSJB Nono Warnono mengatakan Bojonegoro memiliki banyak sastrawan yang telah diakui di tingkat nasional. Bahkan, enam penghargaan Rancage berhasil diraih oleh sastrawan asal Bojonegoro.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah menarik minat generasi muda agar mau mempelajari sastra Jawa.
“PSJB berharap bisa berkolaborasi dengan Pemkab Bojonegoro menghadirkan buku ajar bahasa Jawa khas Bojonegoro untuk jenjang SD dan SMP, sehingga lebih dekat dengan peserta didik,” ujar Nono.
Ia menambahkan, PSJB yang berdiri sejak 1982 terus menjadi wadah berkumpulnya pegiat literasi dan sastra Jawa di Bojonegoro.
Sarasehan tersebut menghadirkan narasumber Wibowo Basuki dari Majalah Jaya Baya serta Kukuh Setya Wibowo, dengan moderator Arieyoko. Keduanya memaparkan tantangan penerbitan media berbahasa Jawa di tengah perkembangan era digital.
Kukuh mengatakan, upaya menarik minat generasi muda terus dilakukan, salah satunya melalui rubrik Wacan Bocah dan Cerita Remaja di Majalah Panjebar Semangat.
“Rubrik ini dihadirkan untuk mendorong anak-anak lebih kreatif menulis menggunakan bahasa Jawa,” pungkasnya. (Red)
