Oleh : Drs. H. Sholikin Jamik, SH.MH.Ketua KBIHU Masyarakat Madani Bojonegoro
Puasa Syariat itu di shodr (dada), yang dibelenggu adalah nafsu amarah. Puasa tarekat wilayahnya qolb (hati). yang dibelenggu adalah nafsu lawwamah. Puasa hakikat, tidak hanya shodr dan qolbnya yang berpuasa tapi ia telah meresap kedalam Fuad hamba. Ini adalah perjalanan puasa hamba dari maqam ma’rifat kepada maqam hakikat.
Puasa hakikat adalah puasanya para ahlul muthma’innah. Para hamba Allah yang telah sampai pada nafsul muthma’innah, jiwanya senantiasa tenang dalam ketaatan kepada Allah. Sepanjang hari mereka menahan kerinduan dan kecintaan kepada Allah.
Sampai di sini kita dapat memahami bahwa maksud hadits Rasulullah saw. tentang setan-setan yang dibelenggu ketika datang bulan ramadhan maksudnya juga dibelenggunya bala tentara setan yang ada didalam diri kita. Dalam aliran darah kita. Yaitu nafsu dan syahwat.
Hakikat puasa sendiri baik secara syariat maupun tarekat adalah jalan seorang hamba meneladani dan meresapi sifat-sifat Ketuhanan. Allah tidak makan minum, tidak beristri. Allah juga tidak berbuat zalim dan tercela karena Allah adalah Pemilik sifat-sifat kesempurnaan. Inilah maksud firman Allah Ta’ala dalam hadits Qudsy:
َالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”. (HR. Imam Ahmad)
Kemudian Syeikh Abdul Qadir al-Jilani mengutip hadits Qudsi dalam kitabnya, Sirr al-Asrâr, yang mengatakan:
يَصيْرُ لِلْصائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ الْإِفْطَارِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ رُؤْيَةِ جَمَالِي
“Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: (1). Ketika berbuka, dan (2). Ketika melihat Ke-Maha Indah-an Allah.”
Bagi Ulama syariat yang dimaksud dengan berbuka adalah makan ketika matahari tenggelam diwaktu maghrib, dan melihat hilal di malam Idul Fitri tanda ramadhan telah berakhir. Sedangkan ahli thoriqoh menegaskan bahwa berbuka itu akan diraih ketika masuk syurga dengan memakan kenikmatan syurga, dan kegembiraan ketika memandang Allah swt. Yaitu ketika bertemu dengan Allah Ta’ala di hari qiyamat nanti, dengan pandangan rahasia batin secara nyata.
Bagi kita para salik minimal harus masuk dalam puasa Thariqah. Puasa yang tidak hanya menahan makan dan minum saja. Namun juga menahan juga segala maksiat lahir dan batin. Jika sudah puasa, shalat jamaah, wirid, namun masih maksiat, berarti belum ada istihya’ (memiliki rasa malu) dan muroqobah (merasa diawasi). Masih berproses menuju manusia paripurna. Introspeksi diri lagi. Apakah ibadah kita hanya untuk memenuhi kewajiban? Karena kebutuhan? Atau sedang menuju jalan cinta?.
Puncak Puasa Hakikat adalah puasa menahan hati paling dalam (Lubb) dari segala hal selain Allah Ta’ala, menahan rahasia batin (sirr) dari mencintai memandang selain Allah Ta’ala seperti disampaikan dalam hadits Qudsy:
الإنسان سري وأنا سره
“Manusia itu rahasiaKu dan Aku rahasianya.”
Rahasia itu bermula dari Nurnya Allah swt, hingga ia tidak berpaling kepada selain Allah Ta’ala. Selain Allah Ta’ala, tidak ada yang dicintai atau disukai dan tak ada yang dicari baik di dunia maupun di akhirat. Bila terjadi rasa cinta kepada selain Allah gugurlah puasa hakikatnya. Ia harus segera mengqodho puasanya, yaitu dengan cara kembali kepada Allah swt dan bertemu denganNya. Sebab balasan Puasa Hakikat adalah bertemu Allah Ta’ala di akhirat.
Ramadhan kita seharusnya bukan hanya mengejar pahala tapi mencari ridha dan Mahabbah. Puasa kita harusnya tidak hanya karena Allah tapi juga harus masuk dalam keterlibatan dan kebersamaan dalam perbuatan-Nya. Tenggelam dalam tauhidul Af’aal. Semoga kita diberikan cicipan ma’rifat dan mahabbah oleh Allah ta’ala. Aamiin

