Bojonegoro UpWarta.com – Upaya menjaga ketersediaan air dan kelestarian lingkungan terus dilakukan di Kabupaten Bojonegoro. ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama Yayasan Sikas Bhakti Nusantara dan sejumlah pemangku kepentingan mendorong perempuan desa menjadi penggerak konservasi air.
Gerakan tersebut dikemas melalui kampanye konservasi air bertajuk “Banyu Kangge Urip” yang digelar di Dusun Tobo, Desa Kendung, Kecamatan Padangan, Bojonegoro, Kamis (10/9/2026).
Salah satu kegiatan utama dalam program tersebut yakni edukasi dan pemanfaatan lubang resapan biopori. Metode ini diperkenalkan sebagai salah satu upaya meningkatkan resapan air hujan ke dalam tanah sekaligus memanfaatkan sampah organik rumah tangga menjadi kompos.
Manager Program Yayasan Sikas Bhakti Nusantara, Ali Abidin, mengatakan program konservasi tersebut mencakup pembuatan sekitar 2.000 lubang biopori yang tersebar di empat desa.
“Pemanfaatan lubang resapan biopori sebanyak 2.000 yang tersebar di 4 desa, yaitu Desa Kendung Kecamatan Padangan, Desa Leran dan Wotangare Kecamatan Kalitidu, Desa Sedahkidul Kecamatan Purwosari, hingga gerakan tanam pohon di lokasi tersebut merupakan langkah nyata dan konkret untuk melindungi bumi serta menjaga ketersediaan air bagi generasi mendatang,” ujar Ali.
Program tersebut juga melibatkan kelompok perempuan sebagai penggerak di tingkat desa. Para ibu rumah tangga mendapat pendampingan agar dapat berperan dalam menjaga lingkungan, khususnya melalui pemanfaatan biopori di sekitar rumah.
Selain pembuatan biopori, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon Gayam dan Jambu Monyet di wilayah Desa Kendung. Bibit yang ditanam diharapkan dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekologis bagi lingkungan setempat.
Keberlanjutan program akan didukung komunitas Srikandi Penyelamat Bumi Desa Kendung. Kelompok perempuan tersebut diharapkan ikut memantau dan merawat fasilitas biopori serta tanaman yang telah ditanam.
Perwakilan EMCL, Yani Sandi Darma, menyampaikan dukungan terhadap gerakan konservasi lingkungan tersebut. Menurutnya, program ini menjadi bagian dari kepedulian perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan dan upaya menjaga ketersediaan air bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Camat Padangan Novitasari menekankan pentingnya ketersediaan air bersih bagi masyarakat sebagai salah satu bagian penting dalam mendukung kesejahteraan warga.
Sementara itu, Kabid Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Tuty, mengingatkan pentingnya perawatan terhadap biopori yang telah dibuat agar tetap berfungsi secara optimal.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Desa Kendung Pujiono dan perwakilan TP PKK Kabupaten Bojonegoro Meinina.
Dalam sesi tanya jawab, peserta mendapat penjelasan mengenai manfaat biopori. Selain membantu meningkatkan resapan air dan berpotensi mengurangi genangan saat musim hujan, lubang biopori juga dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.
Kompos tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman di sekitar rumah, termasuk tanaman cabai dan berbagai jenis sayuran.
Melalui keterlibatan kelompok perempuan, gerakan “Banyu Kangge Urip” diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pembuatan biopori dan penanaman pohon, tetapi berlanjut melalui perawatan dan pemanfaatan fasilitas konservasi lingkungan secara berkelanjutan. (Fa)
