Mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Bojonegoro Gelar Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring bagi Ibu-Ibu PKK Desa Banjarsari

Avatar photo

BOJONEGORO, UpWarta.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIT Muhammadiyah Bojonegoro menggelar pelatihan pembuatan sabun cuci piring bagi ibu-ibu PKK Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jumat (6/2/2026).

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi keluarga.

Pelatihan tersebut diikuti puluhan anggota PKK Desa Banjarsari dan berlangsung di Gedung PKK setempat. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan sabun cuci piring, mulai dari pengenalan bahan, proses pencampuran, hingga pengemasan produk.

Ketua PKK Desa Banjarsari, Lilik Handayani, S. Pd. mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN STIT Muhammadiyah Bojonegoro. Menurut dia, pelatihan ini memberikan pengetahuan baru yang bermanfaat bagi ibu-ibu PKK.

“Kegiatan ini sangat positif karena bisa menjadi bekal keterampilan bagi ibu-ibu. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, ke depan juga bisa dikembangkan sebagai peluang usaha,” ujar Lilik.

Koordinator KKN STIT Muhammadiyah Bojonegoro, Reza, mengatakan bahwa pelatihan pembuatan sabun cuci piring dipilih karena mudah diterapkan dan memiliki nilai ekonomis. Ia berharap ilmu yang diberikan dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Kami ingin kegiatan KKN ini benar-benar memberikan dampak nyata. Pembuatan sabun cuci piring relatif sederhana dan bahan-bahannya mudah diperoleh, sehingga bisa langsung dipraktikkan oleh ibu-ibu di rumah,” kata Reza.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber Silvia, yang juga merupakan mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro. Dalam pemaparannya, Silvia menjelaskan teknik pembuatan sabun cuci piring yang aman, ramah lingkungan, serta memiliki kualitas yang baik untuk digunakan sehari-hari.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN STIT Muhammadiyah Bojonegoro, M. Rondi, M.Pd., menuturkan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan tujuan KKN sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Ia berharap sinergi antara mahasiswa dan masyarakat desa dapat terus terjalin.

“Mahasiswa tidak hanya belajar di bangku kuliah, tetapi juga belajar langsung di tengah masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa diharapkan mampu memberikan solusi sederhana namun bermanfaat,” ujar Rondi.

Kegiatan pelatihan ditutup dengan praktik langsung pembuatan sabun cuci piring oleh para peserta. Hasil sabun yang dibuat rencananya akan digunakan secara mandiri untuk kalangan sendiri dan berpotensi dikembangkan. (Udin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *