KOLOM  

PARADIGMA STIKER “KELUARGA MISKIN” DARI SUDUT KEISLAMAN

Avatar photo
BUDI SANTOSO, M.Ling (SANTRI MBELING BOJONEGORO)

Penulis BUDI SANTOSO, M.Ling (SANTRI MBELING BOJONEGORO)

Pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan kegiatan menempel stiker “KELUARGA MISKIN” di rumah-rumah penerima bantuan sosial. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memantau keluarga-keluarga yang membutuhkan bantuan, namun juga menimbulkan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat.

Dalam konteks ini, perlu dipertimbangkan perspektif Islam tentang stiker “KELUARGA MISKIN” dan dampaknya terhadap masyarakat.

Dalam perspektif Islam, stiker “KELUARGA MISKIN” yang sering ditempelkan di rumah-rumah penerima bantuan sosial dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap pola pikir dan perilaku individu. Menurut pandangan Islam, label-label seperti ini dapat mempengaruhi kesadaran diri seseorang dan membuatnya merasa tidak mampu atau tidak berharga.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Ra’d (13:11):

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT tidak akan mengubah keadaan seseorang atau suatu kaum jika mereka tidak berusaha untuk mengubah diri mereka sendiri. Oleh karena itu, masyarakat harus yakin bahwa mereka dapat mengubah nasib mereka sendiri dan tidak boleh menyerah.

Dalam konteks ini, stiker “KELUARGA MISKIN” dapat menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan. Label ini dapat membuat masyarakat merasa tidak mampu dan tidak berharga, sehingga mereka tidak memiliki motivasi untuk berusaha dan mengubah nasib mereka.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُهِيْنَ مُسْلِمًا

“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk menghinakan Muslim lainnya.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh menghinakan atau merendahkan orang lain, termasuk dengan memberikan label-label yang tidak baik seperti “KELUARGA MISKIN”.

Oleh karena itu, pemerintah harus berhati-hati dengan label-label seperti ini dan tidak membiarkan mereka mempengaruhi pola pikir masyarakat. Pemerintah harus yakin bahwa masyarakat dapat mengubah nasib mereka sendiri dan tidak boleh menyerah. Pemerintah harus terus berusaha dan berdoa agar Allah SWT memberikan keberkahan dan kesuksesan.

Masyarakat semua tahu bahwa Allah SWT telah menentukan takdir mereka, tapi mereka juga tahu bahwa mereka memiliki kebebasan untuk memilih. Mereka, dapat memilih untuk menjadi orang yang bahagia atau orang yang sedih, mereka dapat memilih untuk menjadi orang yang kaya atau orang yang miskin.

Tapi, mengapa banyak di antara masyarakat yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan kesengsaraan? Apakah karena mereka tidak memiliki kesempatan? Apakah karena mereka tidak memiliki kemampuan? Tidak, saudara-saudara! Allah SWT telah memberikan mereka kesempatan dan kemampuan yang sama. Allah SWT menciptakan pagi, siang, dan malam yang terus berulang, sebagai bentuk kesempatan yang sama kepada manusia untuk merubah keadaan dirinya. Setiap hari, mereka memiliki kesempatan untuk memulai lagi, untuk berusaha, dan untuk berdoa.

Masyarakat harus bangkit! Mereka harus berusaha! Mereka harus berdoa! Mereka harus meminta pertolongan Allah SWT! Mereka harus yakin bahwa mereka dapat mengubah nasib mereka, mereka dapat mengubah takdir mereka! Sebenarnya, nasib mereka semua ditentukan oleh takdir yang mereka pilih sejak mereka bangun tidur. Mau memilih jalan mana, kanan atau kiri, fujuroha wataqwaaha? Mereka mau pilih yang baik, ya? Bangun tidur, pilihlah yang baik-baik. Kalau ingin takdir mereka buruk, ya, bangun pasti mereka akan memilih jalan yang buruk, dan hati nurani mereka yang dalam tau itu semua.

Tantangan bagi pemerintah: seharusnya pemerintah mencoba menghilangkan semua bantuan sosial dan hanya menyisakan bantuan kesehatan gratis dan pendidikan gratis saja Selama setahun, apa efeknya dan pengaruhnya terhadap masyarakat?

Jika pemerintah menghilangkan semua bantuan kecuali bantuan kesehatan dan pendidikan saja, maka masyarakat akan dipaksa untuk berusaha dan mencari nafkah sendiri. Mereka akan lebih mandiri dan tidak bergantung pada bantuan pemerintah. Mereka akan lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi untuk kebutuhan mereka.

Namun, jika masyarakat tidak siap untuk menghadapi perubahan ini, maka mereka mungkin akan mengalami kesulitan dan kesengsaraan. Mereka mungkin akan merasa tidak mampu dan tidak berharga, sehingga mereka tidak memiliki motivasi untuk berusaha dan mengubah nasib mereka.

Oleh karena itu, pemerintah harus berhati-hati dalam mengambil keputusan dan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat. Pemerintah harus yakin bahwa masyarakat siap untuk menghadapi perubahan ini dan memiliki kemampuan untuk mengubah nasib mereka sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *