KOLOM  

Bola Dipukul, Persaudaraan Dipupuk, Turnamen Lokal Voli PKDI Sukosewu Berakhir Meriah

Cropped 20260806 204909.png
20260901
Suasana laga final pkdi cup 2026 di lapangan Desa Purwoasri Kecanatan Sukosewu. Minggu (30/8/2026)

Bojonegoro UpWarta.com – Kalau ada istilah local pride, maka Turnamen Bola Voli Lokal Nyel yang diselenggarakan Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Kecamatan Sukosewu ini bisa menjadi salah satu contoh nyatanya.

Digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, turnamen yang dipusatkan di Desa Purwoasri tersebut berlangsung sejak 15 hingga 30 Agustus 2026.

Meski embel-embelnya “lokal nyel”, jangan buru-buru menganggap pertandingannya sekadar ajang fun game. Begitu peluit wasit berbunyi, istilah “lokal” seakan hilang. Yang terlihat adalah service, receive, smash, block, dig, hingga rally point yang membuat penonton ikut tegang.

Bedanya, kalau turnamen besar biasanya penonton sibuk membahas statistik pemain, di sini statistiknya bisa berkembang menjadi, “Waduh, tadi bolanya masuk apa keluar?” atau “Yang smash siapa tadi? Kok keras banget!”

Pada laga final putri yang digelar Minggu malam, Desa Sitiaji bangkit sukses menjadi champion setelah melewati pertandingan dramatis menghadapi tim tuan rumah Desa Purwoasri hebat.

Pertandingan berlangsung ketat hingga harus ditentukan melalui lima set, dengan skor akhir 3-2 untuk Desa Sitiaji

Pertandingan seperti ini layak disebut five-set thriller. Sempat terjadi jual beli serangan, adu smash, pertahanan block dan receive yang membuat bola berkali-kali terbang di atas net.

Bagi pendukung Desa Sitiaji Bangkit kemenangan tersebut tentu menjadi happy ending. Bagi pendukung Desa Purwoasri hebat, mungkin rasanya seperti sudah sampai depan pintu rumah, tetapi kuncinya ternyata ketinggalan di lapangan.

Namun begitulah olahraga. Ada winning point, ada match point, ada kemenangan, dan tentu saja ada pelajaran tentang sportivitas.

Sementara itu, di jam kedua di sektor putra, Desa Tegalkodo Mboyz  tampil sebagai juara setelah menundukkan tim serumpun, Desa Sitiaji Bangkit, dengan skor meyakinkan 3-0.

Tiga set tanpa balas membuat Tegalkodo Mboyz layak disebut tampil efektif. Kalau dalam bahasa voli, attack jalan, defense bekerja, dan penyelesaian poin berjalan sesuai skenario.

Sementara Sitiaji Bangkit harus menerima kenyataan bahwa dalam pertandingan, tidak semua serve berujung ace dan tidak semua smash berujung poin.

Tetapi satu hal yang pasti, kalah di lapangan bukan berarti kalah dalam persaudaraan.

Karena setelah pertandingan selesai, net tetap berdiri, tetapi tensi pertandingan sudah turun. Yang tersisa adalah salam, tawa, foto bersama, dan cerita yang kemungkinan bakal dibawa sampai ngopi di warung.

Selain pertandingan yang seru, kemeriahan Turnamen Voli Lokal Nyel yang di ikuti khusus 14 Desa yang ada di kecamatan Sukosewu juga semakin lengkap dengan berbagai hiburan.

Ada kembang api yang menerangi langit, ada doorprize yang membuat penonton mendadak foku, bahkan mungkin lebih fokus daripada melihat setter memberikan umpan.

Dan yang tak kalah penting, UMKM lokal ikut merasakan dampak positifnya.

Penonton datang membawa uang untuk membeli jajanan, minuman, makanan, dan berbagai kebutuhan selama pertandingan. Jadi kalau para pemain melakukan smash ke area lawan, para pelaku UMKM bisa dibilang melakukan smash ke pasar.

Bedanya, kalau smash pemain menghasilkan angka di papan skor, smash UMKM menghasilkan omzet di kas.

Turnamen ini membuktikan bahwa kompetisi olahraga tidak harus selalu digelar dengan fasilitas megah atau menghadirkan pemain bintang yang di datangkan dari langit.

Lapangan desa pun bisa menjadi arena sportivitas, tempat bertemunya talenta lokal, sekaligus ruang mempererat silaturahmi antarwarga.

Turnamen Lokal Nyel juga menjadi bukti bahwa semangat kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara yang sederhana tetapi penuh energi, olahraga, kebersamaan, hiburan, dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

Selamat kepada Sitiaji Bangkit sebagai juara putri dan Tegalkodo Mboyz sebagai juara putra.

Ingat, Bola boleh dipukul keras, Lawan boleh ditaklukkan, Tetapi persaudaraan jangan sampai kena block.

Penulis: Arif Rahman Hakim