BOJONEGORO UpWarta.com – Perkumpulan Disabilitas Kabupaten Bojonegoro (PDKB) merayakan hari ulang tahunnya yang ke-13 di Desa Lengkong, Kecamatan Balen, Minggu (5/4/2026).
Acara yang bertepatan dengan tradisi halal bihalal ini diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari pembagian bantuan sosial, pemeriksaan kesehatan gratis, pameran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga operasi pasar murah.
Dalam sambutannya, Ketua PDKB, Sanawi, menyampaikan harapan agar Bojonegoro dapat diakui sebagai wilayah yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Ia menegaskan bahwa payung hukum berupa Peraturan Daerah (Perda) telah dimiliki, sehingga tidak boleh lagi terjadi diskriminasi antara penyandang disabilitas dengan masyarakat umum.
“Harapan kami hanya satu: Bojonegoro menjadi kota yang tidak ada perbedaan antara disabilitas dengan masyarakat normal. Kita sudah memiliki Perda Disabilitas dan payung hukum sehingga tidak ada lagi diskriminasi,” ujar Sanawi.
Sanawi juga memaparkan sejarah terbentuknya organisasi ini yang bermula dari gerakan kolektif di Kediri, hingga akhirnya berdiri sendiri di Bojonegoro sebagai wadah pembinaan dan pendampingan bagi penyandang disabilitas.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Bojonegoro, Agus Susetyo Hardiyanto, yang hadir mewakili Bupati menyatakan bahwa tahun 2026 menjadi momentum penguatan perlindungan bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas berat dan kronis.
Pemerintah daerah berupaya memastikan penyaluran bantuan sosial berjalan tepat sasaran melalui pemutakhiran data terpadu yang melibatkan perangkat desa dan kader di lapangan.
Selain bantuan langsung, pemerintah juga menyiapkan program pemberdayaan mandiri, seperti pelatihan keterampilan menjahit dan tata rias, serta penyediaan alat bantu.
Bagi kelompok yang tidak produktif, seperti lansia atau yang menderita sakit kronis, jaminan sosial akan tetap menjadi prioritas.
Agus menambahkan, pertemuan semacam ini diharapkan dapat mempererat komunikasi antara pemerintah dan komunitas agar kebijakan yang disusun sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Kami terbuka untuk berdiskusi kapan saja demi mewujudkan Bojonegoro yang benar-benar inklusif,” tutup Agus. (Fif/nn/Red).
